Rabu, 21 Oktober 2009

Komaruddin Hidayat : mengapa bersyahadat

Prof Komaruddin Hidayat
MENGAPA HARUS BERSYAHADAT
Komaruddin Hidyat
Ibarat bangunan rumah, syahadat itu bagaikan fondasinya. Ketika melihat rumah bagus dan besar, orang kurang peduli pada fondasi, justru yang diperhatikan adalah bangunan rumah serta berbagai ornamen yang ada. Atau mungkin mobil-mobil mewah yang parkir di halamannya.

Ibarat fondasi bangunan, syahadat yang merupakan rukun Islam pertama memang tidak kelihatan, namun fungsinya sangat vital, sebagai penyangga seluruh bangunan di atasnya.

Dalam ajaran Islam, sebagian besar ajaran dan pelaksanaan agama memang bersifat sangat pribadi. Secara seremonial, yang bisa dilihat oleh orang lain adalah shalat jum’at dan ibadah haji. Itupun ketika menyangkut niat dan tingkat kekhusyukannya, orang lain tidak tahu. Jadi betul-betul bersifat pribadi, yang tahu hanya yang bersangkutan dan Allah. Kita tidak tahu secara pasti, adakah seseorang benar-benar melakukan shalat, puasa, zakat dan haji. Dengan demikian, kemerdekaan atau kebebasan beragama sudah built-in dalam ajaran Islam.

Tanpa adanya kebebasan maka konsep reward and punishment (pahala dan siksa) sulit diterapkan. Seseorang dikatakan berbuat baik ketika ada pilihan dan peluang untuk berbuat jahat, dan sebaliknya. Dengan demikian, apakah seseorang mau beriman dan beramal saleh, itu sebanding dengan kesempatan untuk memilih menjadi kufur dan berbuat munkar.

Memaknai Syahadat

Secara harfiah, syahadat dalam Islam berbunyi: Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat yang tampak sederhana ini jika dikaji konteks kemunculannya sungguh merupakan peristiwa sosial-psikologis yang amat dahsyat. Masyarakat Arab waktu menjadi goncang dan terbelah gara-gara deklarasi syahadat ini. Bahkan Muhammad yang kala itu dikenal sebagai orang yang paling dipercaya dan dicintai semua masyarakat, begitu mandakwahkan kalimat ini tiba-tiba jiwanya terancam, dikejar-kejar hendak dibunuh yang akhirnya harus pindah ke Madinah.

Bersyahadat berarti melakukan perjanjian dan kontrak hidup dengan Allah, menyadari sepenuhnya bahwa kita diciptakan oleh Allah, dimatikan oleh Allah, dan hidup ini hanya untuk Allah, mengikuti ajaran-ajaran Allah. Deklarasi ini sekaligus memutuskan semua bentuk penghambaan selain pada Allah. Dengan demikian syahadat juga berarti sebuah liberasi dan emansipasi atau pembebasan diri dari semua bentuk ketergantungan kecuali pada Allah.

Implikasi syahadat ini ketika awal mula diajarkan oleh Rasul Muhammad telah membuat para bangsawan Arab marah, tersinggung dan merasa dihinakan. Sebaliknya para budak dan orang-orang tertindas merasa memperoleh pencerahan hidup dan optimisme, bahwa semua manusia adalah sama. Yang membedakan adalah kualitas iman dan budinya, bukan karena pangkat dan kekayaannya. Faham egalitarianisme dan humanisme sejati justeru telah diajarkan oleh Rasul Muhammad sejak abad ke tujuh, bahwa hidup adalah suci, dan setiap jiwa orang harus dihormati. Dalam setiap individu terdapat nilai kemanusiaan universal, sehingga Al-Qur’an menyatakan, barangsiapa membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan maka nilai dosanya seakan telah membunuh seluruh manusia. Begitupun yang menolong jiwa seseorang, seakan dia telah menolong seluruh manusia.

Muncul pertanyaan, kapan syahadat yang menyatakan keislaman kita? Mengapa seorang muslim wajib mengikrarkan syahadat setidaknya sembilan kali sehari, dan memohon petunjuk jalan yang lurus sedikitnya tujuh belas kali sehari? Apakah ini berarti kita masih ragu akan keislaman kita? Sedikitnya tiga jawaban dapat dikemukakan terhadap pertanyaan ini.

Pertama, demikianlah perintah dan ajaran Islam, bahwa setiap shalat kita diwajibkan mengucapkan syahadat. Tentu perintah ini mengandung hikmah yang besar, mengapa syahadat harus diulang-ulang, tidak cukup sekali saja sebagaimana perintah wajib haji ataupun akad nikah dalam perkawinan.

Kedua, mengingat hati, pikiran, dan tindakan seseorang tidak selalu stabil, tidak selalu berada di jalan yang lurus, maka setiap hari perlu dilakukan pembaruan dan penyegaran komitmen tauhid berupa ikrar syahadat. Rasulullah memperingatkan, hati-hati dengan dirimu, siapa tahu pagi hari penuh dengan semangat keimanan sedang sorenya terpeleset menjadi kafir (sekalipun dalam KTP tetap tertulis sebagai orang muslim). Oleh karena itu shalat dan syahadat yang dilakukan setiap hari merupakan ikatan dan jalan pertobatan bagi seorang mukmin.

Ketiga, sebuah syahadat verbal berupa ucapan harus selalu diisi terus-menerus dengan syahadat atau kesaksian yang didukung dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman keberagamaan. Coba bandingkan, kualitas syahadat yang diikrarkan para peserta training ESQ setelah memperoleh pengetahuan tentang kebesaran Allah dengan kualitas syahadat sebelum training. Pasti ada perbedaan kualitas. Atau kualitas syahadat kita semasa SD dan setelah usia lanjut, tentu bobotnya tidak sama. Ini berarti setiap hari kita wajib meningkatkan kualitas syahadat kita dengan cara menambah pengetahuan tentang Allah dan asma-Nya serta karya-karya agung-Nya.

Begitupun permohonan dalam Al-Fatihah: Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Sebagaimana syahadat, ini juga merupakan metode dan komitmen agar kita selalu berjalan di atas jalan yang lurus. Bahkan sekaligus menunjukkan sikap rendah hati di hadapan Allah. Dalam berbagai pertemuan lintas agama, qua substansi semua tokoh agama sulit menolak kebenaran Al-Fatihah karena isinya sangat inklusif. Jika Al-Fatihah disebut induk Al-Qur’an, maka inklusifitas isi Al-Fatihah sejalan dengan spirit training ESQ yang juga inklusif dan rendah hati serta haus akan kebenaran.

Perintah bersyahadat dan mohon petunjuk ke jalan lurus setiap hari bukannya kita ragu akan kebenaran agama serta iman kita, melainkan sebuah metode pembelajaran diri agar kita selalu rendah hati dan membuka diri terhadap kritik, dan kritik yang paling penting datang dari diri sendiri. Kalau seseorang membiasakan melakukan kritik diri dengan tulus dan serius, maka ketika ada kritik dari orang lain, ia tidak akan marah, malah berterima kasih.

Sumber ESQ Magazine.com, Senin 14 September 2009


Tidak ada komentar:

Posting Komentar