Senin, 30 November 2009
Pendidikan Berparadigma profetik
Oleh :
Arif Sulistiawan
Pendidikan merupakan salah satu aspek dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa yang memegang peranan penting terkait dengan kualitas kehidupan dan jati diri manusia sebagai khalifah Tuhan. Pendidikan yang baik akan menciptakan tatanan keluarga, masyarakat dan bangsa yang penuh dengan harmoni dan cinta kasih. Pendidikan yang baik juga akan melahirkan generasi yang berilmu, berakhlaq serta mempunyai kemampuan secara mandiri dalam menata masa depannya. Sebaliknya pendidikan yang buruk akan menyebabkan mayarakat menjadi chaos (kacau) dan penuh dengan kebencian. Pendidikan yang buruk akan menghasilkan generasi yang gagap dan tidak mempunyai kemandirian dalam bersikap dan bertindak. Filosof Immanuel Kant mengatakan “manusia adalah hasil dari pendidikan”.
Fenomena pendidikan di Negara kita sekarang ini di satu sisi sudah mengalami banyak kemajuan namun di sisi lain masih banyak problem yang menghantui pendidikan kita. Kemerosotan moralitas anak didik kita yang ditandai oleh banyaknya kasus kenakalan serta perkelaian remaja, anak sekolah yang terjebak dalam pergaulan bebas, pronografi dan narkoba. Semua itu merupakan masalah serius yang memerlukan pemikiran dan pemecahan bagi insan pendidikan yang melibatkan sinergi antara keluarga, pemerintah dan masyarakat.
Sekarang ini sudah banyak teori/konsep pendidikan yang telah dikembangkan dalam rangka untuk memperbaiki serta meningkatkan kualitas pendidikan kita. Mulai dari pendidikan multikultular, pendidikan kritis, dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut kebanyakan mengadopsi dari Negara-negara maju/Negara-negara barat yang berperadapan industrial dan sekuler sehingga secara praktis belum tentu cocok untuk diaplikasikan di Negara kita karena perbedaan karakter, kultur dan sosiologi masyarakat.
Salah satu konsep pendidikan yang patut kita diskusikan adalah pendidikan berparadigma profetik, yaitu pendidikan yang dilandasi oleh nilai-nilai profetis atau nilai-nilai kewahyuan. Sebagai seorang muslim, kita telah meyakini bahwa wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi merupakan paket kebenaran yang sudah final. Kebenaran tersebut tidak hanya berisi tentang bagaimana beribadah secara ritual vertical namun juga mengandung pesan-pesan kemanusiaan dan perdamaian yang luhur, singkatnya wahyu yang diturunkan Allah merupakan panduan nilai yang lengkap dalam kehidupan ini. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya menekankan aspek kognitif/intelektual belaka tetapi juga ingin menjadikan manusia menjadi individu-individu yang memiliki kualitas intelektual dan spiritual yang baik.
Ada beberapa prinsip pendidikan berparadigma profetik, antara lain : pertama, pendidikan profetik berlandaskan tauhid, yaitu menjadikan tauhid/keesaan Allah sebagai nafas/spirit dalam segala aktivitas pendidikan. Sudah jelas bagi kita bahwa seluruh wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW mengandung inti pesan ajaran tauhid yaitu mengesakan Allah sebagai pencipta, pengatur dan pemilik kehidupan ini. Nilai-nilai yang terkandung dalam tauhid akan menimbulkan perasaan pembebasan (liberation) sejati pada diri anak didik kita. Melahirkan perasaan kepedulian social kemanusiaan yang tinggi karena tauhid mengandung makna kesatuan penciptaan (Unity of Creation) dan kesatuan kemanusiaan (Unity of Mankind)
Kedua, pendidikan profetik bersifat holistic/menyeluruh. Kegagalan pendidikan yang terjadi sering dikarenakan pendidikan berlangsung dan bersifat parsial. Pendidikan sering hanya di maknai dengan pengajaran yang berisi transfer pengetahuan belaka sehingga akan menghasilkan individu yang cerdas secara kognitif tetapi berperilaku yang menyimpang dari nilai-nilai dan norma agama. Pendidikan berparadigma profetik memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional sekaligus makhluk spiritual seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an sehingga pendidikan yang dilaksanakan mempunyai misi mencerdaskan akal dan hati. Sekarang ini dengan adanya pemisahan mata pelajaran, pendidikan agama sering hanya diajarkan secara parsial dan tidak dikaitkan dengan subyek keilmuan yang lain. Bercermin dari sejarah Nabi Muhammad, sepanjang hidupnya Nabi berdakwah dengan mendidik umatnya secara totalitas agar dapat melaksanakan ajaran Tauhid. Nabi mendidik umatnya tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya dengan sekolah tanpa dinding (school without wall) sehingga dalam waktu kurang lebih 23 tahun Nabi berhasil merubah masyarakat yang jahiliyah (Ignorance Soceity) menjadi masyarakat yang beradab (Civilited Soceity) .
Ketiga, pendidikan profetik menjadikan Al-Qur’an sebagai paradigma Ilmu Pengetahuan. Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan yang paripurna yang menjadi pelengkap ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu yang merupakan panduan hidup bagi setiap muslim di muka bumi ini. Al-quran memberikan status yang tinggi bagi ilmu pengetahuan, disebutkan bahwa Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu (QS,58:11), Penciptaan alam semesta adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal/ulul albab (QS,3:190). Ilmu pengetahuan yang kita pelajari saat ini khususnya ilmu-ilmu alam sebagian besar lahir dari peradaban Barat yang secular sehingga cenderung berpandangan materialistic dan menolak wahyu sebagai sumber informasi dalam dunia keilmuan. Dengan menjadikan Alquran sebagai paradigma maka setiap aktivitas pengajaran ilmu pengetahuan selalu mengkaitkan subject matter keilmuan tersebut dengan ajaran-ajaran yang tertuang dalam Alquran. Lebih lanjut, ayat-ayat Al-Quran dijadikan inspirasi bagi pengembangan keilmuan anak didik kita. Dengan demikian maka pendidikan kita akan terhindar dari sikap sekularisme pendidikan yang memisahkan ilmu dengan Pencipta alam.
Penutup
Tulisan ini tidaklah bermaksud menjelaskan bagaimana implementasi pendidikan berparadigma profetik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, tetapi terbatas pada bagaimana menjelaskan beberapa prinsip pendidikan yang menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai landasan berpijak. Diharapkan dengan menjadikan nilai-nilai kewahyuan sebagai paradigma dalam pendidikan dapat secara perlahan-lahan mengarahkan pendidikan kita untuk membentuk generasi yang utuh yaitu generasi yang cerdas secara spiritual maupun intelektual. Wallahu ’alam bi shawab
*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan di Bojonegoro Jatim
Rabu, 21 Oktober 2009
Komaruddin Hidayat : mengapa bersyahadat
MENGAPA HARUS BERSYAHADAT
Komaruddin Hidyat
Ibarat bangunan rumah, syahadat itu bagaikan fondasinya. Ketika melihat rumah bagus dan besar, orang kurang peduli pada fondasi, justru yang diperhatikan adalah bangunan rumah serta berbagai ornamen yang ada. Atau mungkin mobil-mobil mewah yang parkir di halamannya.
Ibarat fondasi bangunan, syahadat yang merupakan rukun Islam pertama memang tidak kelihatan, namun fungsinya sangat vital, sebagai penyangga seluruh bangunan di atasnya.
Dalam ajaran Islam, sebagian besar ajaran dan pelaksanaan agama memang bersifat sangat pribadi. Secara seremonial, yang bisa dilihat oleh orang lain adalah shalat jum’at dan ibadah haji. Itupun ketika menyangkut niat dan tingkat kekhusyukannya, orang lain tidak tahu. Jadi betul-betul bersifat pribadi, yang tahu hanya yang bersangkutan dan Allah. Kita tidak tahu secara pasti, adakah seseorang benar-benar melakukan shalat, puasa, zakat dan haji. Dengan demikian, kemerdekaan atau kebebasan beragama sudah built-in dalam ajaran Islam.
Tanpa adanya kebebasan maka konsep reward and punishment (pahala dan siksa) sulit diterapkan. Seseorang dikatakan berbuat baik ketika ada pilihan dan peluang untuk berbuat jahat, dan sebaliknya. Dengan demikian, apakah seseorang mau beriman dan beramal saleh, itu sebanding dengan kesempatan untuk memilih menjadi kufur dan berbuat munkar.
Memaknai Syahadat
Secara harfiah, syahadat dalam Islam berbunyi: Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat yang tampak sederhana ini jika dikaji konteks kemunculannya sungguh merupakan peristiwa sosial-psikologis yang amat dahsyat. Masyarakat Arab waktu menjadi goncang dan terbelah gara-gara deklarasi syahadat ini. Bahkan Muhammad yang kala itu dikenal sebagai orang yang paling dipercaya dan dicintai semua masyarakat, begitu mandakwahkan kalimat ini tiba-tiba jiwanya terancam, dikejar-kejar hendak dibunuh yang akhirnya harus pindah ke Madinah.
Bersyahadat berarti melakukan perjanjian dan kontrak hidup dengan Allah, menyadari sepenuhnya bahwa kita diciptakan oleh Allah, dimatikan oleh Allah, dan hidup ini hanya untuk Allah, mengikuti ajaran-ajaran Allah. Deklarasi ini sekaligus memutuskan semua bentuk penghambaan selain pada Allah. Dengan demikian syahadat juga berarti sebuah liberasi dan emansipasi atau pembebasan diri dari semua bentuk ketergantungan kecuali pada Allah.
Implikasi syahadat ini ketika awal mula diajarkan oleh Rasul Muhammad telah membuat para bangsawan Arab marah, tersinggung dan merasa dihinakan. Sebaliknya para budak dan orang-orang tertindas merasa memperoleh pencerahan hidup dan optimisme, bahwa semua manusia adalah sama. Yang membedakan adalah kualitas iman dan budinya, bukan karena pangkat dan kekayaannya. Faham egalitarianisme dan humanisme sejati justeru telah diajarkan oleh Rasul Muhammad sejak abad ke tujuh, bahwa hidup adalah suci, dan setiap jiwa orang harus dihormati. Dalam setiap individu terdapat nilai kemanusiaan universal, sehingga Al-Qur’an menyatakan, barangsiapa membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan maka nilai dosanya seakan telah membunuh seluruh manusia. Begitupun yang menolong jiwa seseorang, seakan dia telah menolong seluruh manusia.
Muncul pertanyaan, kapan syahadat yang menyatakan keislaman kita? Mengapa seorang muslim wajib mengikrarkan syahadat setidaknya sembilan kali sehari, dan memohon petunjuk jalan yang lurus sedikitnya tujuh belas kali sehari? Apakah ini berarti kita masih ragu akan keislaman kita? Sedikitnya tiga jawaban dapat dikemukakan terhadap pertanyaan ini.
Pertama, demikianlah perintah dan ajaran Islam, bahwa setiap shalat kita diwajibkan mengucapkan syahadat. Tentu perintah ini mengandung hikmah yang besar, mengapa syahadat harus diulang-ulang, tidak cukup sekali saja sebagaimana perintah wajib haji ataupun akad nikah dalam perkawinan.
Kedua, mengingat hati, pikiran, dan tindakan seseorang tidak selalu stabil, tidak selalu berada di jalan yang lurus, maka setiap hari perlu dilakukan pembaruan dan penyegaran komitmen tauhid berupa ikrar syahadat. Rasulullah memperingatkan, hati-hati dengan dirimu, siapa tahu pagi hari penuh dengan semangat keimanan sedang sorenya terpeleset menjadi kafir (sekalipun dalam KTP tetap tertulis sebagai orang muslim). Oleh karena itu shalat dan syahadat yang dilakukan setiap hari merupakan ikatan dan jalan pertobatan bagi seorang mukmin.
Ketiga, sebuah syahadat verbal berupa ucapan harus selalu diisi terus-menerus dengan syahadat atau kesaksian yang didukung dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman keberagamaan. Coba bandingkan, kualitas syahadat yang diikrarkan para peserta training ESQ setelah memperoleh pengetahuan tentang kebesaran Allah dengan kualitas syahadat sebelum training. Pasti ada perbedaan kualitas. Atau kualitas syahadat kita semasa SD dan setelah usia lanjut, tentu bobotnya tidak sama. Ini berarti setiap hari kita wajib meningkatkan kualitas syahadat kita dengan cara menambah pengetahuan tentang Allah dan asma-Nya serta karya-karya agung-Nya.
Begitupun permohonan dalam Al-Fatihah: Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus. Sebagaimana syahadat, ini juga merupakan metode dan komitmen agar kita selalu berjalan di atas jalan yang lurus. Bahkan sekaligus menunjukkan sikap rendah hati di hadapan Allah. Dalam berbagai pertemuan lintas agama, qua substansi semua tokoh agama sulit menolak kebenaran Al-Fatihah karena isinya sangat inklusif. Jika Al-Fatihah disebut induk Al-Qur’an, maka inklusifitas isi Al-Fatihah sejalan dengan spirit training ESQ yang juga inklusif dan rendah hati serta haus akan kebenaran.
Perintah bersyahadat dan mohon petunjuk ke jalan lurus setiap hari bukannya kita ragu akan kebenaran agama serta iman kita, melainkan sebuah metode pembelajaran diri agar kita selalu rendah hati dan membuka diri terhadap kritik, dan kritik yang paling penting datang dari diri sendiri. Kalau seseorang membiasakan melakukan kritik diri dengan tulus dan serius, maka ketika ada kritik dari orang lain, ia tidak akan marah, malah berterima kasih.
Sumber ESQ Magazine.com, Senin 14 September 2009